<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>madrasahdigital</title>
	<atom:link href="http://madrasahdigital.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madrasahdigital.wordpress.com</link>
	<description>zawiyah dunia maya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Feb 2012 09:48:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='madrasahdigital.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/09369d87ba05822a597924b6b30c4469?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>madrasahdigital</title>
		<link>http://madrasahdigital.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://madrasahdigital.wordpress.com/osd.xml" title="madrasahdigital" />
	<atom:link rel='hub' href='http://madrasahdigital.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Metode pembelajaran efektif</title>
		<link>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/11/metode-pembelajaran-efektif/</link>
		<comments>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/11/metode-pembelajaran-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 19:49:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirojudinmursan</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madrasahdigital.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan menggapai masa depan yang cerah,mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi.Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa,Negara dan agama.Melihat peran yang begitu vital dan efisien adalah sebuah keharusan.Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan.Di bawah ini adalah beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=222&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://madrasahdigital.files.wordpress.com/2011/11/metode.jpg"><img class="alignleft  wp-image-235" title="metode" src="http://madrasahdigital.files.wordpress.com/2011/11/metode.jpg?w=400&#038;h=300" alt="" width="400" height="300" /></a>Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan menggapai masa depan yang cerah,mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi.Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa,Negara dan agama.Melihat peran yang begitu vital dan efisien adalah sebuah keharusan.Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan.Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif,yang mungkin bisa kita persiapkan.</p>
<p>Ø Metode Debat</p>
<p>Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa.Materi ajar dipilih dan di susun menjadi paket pro dan kontra.Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang.Didalam kelompoknya,siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang di tugaskan.</p>
<p>Ø Metode Role Playing</p>
<p>Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.Kelebihan metode Role Playing:</p>
<p>1. Melibatkan seluruh siswa dapat berpatisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.</p>
<p>2. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.</p>
<p>3. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.</p>
<p>4. guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.</p>
<p>5. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenabgkan bagi anak.</p>
<p>Ø Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)</p>
<p>Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk di pecahkan sendiri atau secara bersama-sama.Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:</p>
<p>1. Melatih siwa untuk mendesain suatu penemuan.</p>
<p>2.Berpikir dan bertindak kreativ.</p>
<p>3.Memecahkan masalah yang di hadapi secara realistis.</p>
<p>4.Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.</p>
<p>5.Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.</p>
<p>Ø Pembelajaran Berdasarkan Masalah<span id="more-222"></span></p>
<p>Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Langkah-langkahnya:</p>
<ol>
<ol>
<li>Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.</li>
<li>Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar.</li>
<li>Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.</li>
<li>Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai.</li>
<li>Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi.</li>
</ol>
</ol>
<p>Ø Cooperative Script</p>
<p>Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Langkah-langkahnya:</p>
<ol>
<ol>
<li>Guru membagi siswa untuk berpasangan.</li>
<li>Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.</li>
<li>Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.</li>
<li>Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.</li>
<li>Bertukar peran,semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.</li>
</ol>
</ol>
<p>Ø Picture and Picture</p>
<p>Picture and picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis. Langkah-langkahnya:</p>
<p>Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.</p>
<ol>
<ol>
<li>Menyajikan materi sebagai pengantar.</li>
<li>Guru menunjukan/memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.</li>
<li>Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.</li>
<li>Guru menanyakan alas an/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.</li>
<li>Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengfan kompetensi yang ingin dicapai.</li>
</ol>
</ol>
<p>Kesimpulan/rangkuman.</p>
<p>Inilah metode pembelajaran yang bisa kita terapkan agar proses pembelajaran tidak membosankan dan anak didik kita terpacu dan semangat dalam belajar.</p>
<p>Sumber : Eka Yuliastuti/kompasiana.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://madrasahdigital.wordpress.com/category/pendidikan/'>pendidikan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madrasahdigital.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madrasahdigital.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madrasahdigital.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madrasahdigital.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madrasahdigital.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madrasahdigital.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madrasahdigital.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madrasahdigital.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madrasahdigital.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madrasahdigital.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madrasahdigital.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madrasahdigital.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madrasahdigital.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madrasahdigital.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=222&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/11/metode-pembelajaran-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bddeb5c26467f9aee2bbd3db2180e713?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirojudinmursan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madrasahdigital.files.wordpress.com/2011/11/metode.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">metode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>E-learning</title>
		<link>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/11/e-learning/</link>
		<comments>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/11/e-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 12:40:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirojudinmursan</dc:creator>
				<category><![CDATA[E-learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madrasahdigital.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Banyak pakar yang menguraikan definisi e-learning dari berbagai sudut pandang. Definisi yang sering digunakan banyak pihak adalah sebagai berikut: E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain [Hartley, 2001]. E-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=173&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Banyak pakar yang menguraikan definisi <em>e-learning </em>dari berbagai sudut pandang. Definisi yang sering digunakan banyak pihak adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li><em>E-learning </em>merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain [Hartley, 2001].</li>
</ul>
<ul>
<li><em>E-learning </em>adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, maupun komputer <em>standalone</em> [LearnFrame.Com, 2001]</li>
</ul>
<ul>
<li><em>E-learning </em>adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalamnya penggunaan<em> mobile technologies </em>seperti<em> </em>PDA<em> </em>dan<em> </em>MP3<em> players. </em>Juga penggunaan <em>teaching materials </em>berbasis <em>web</em> dan  <em>hypermedia</em>,<em> </em>multimedia<em> </em>CD-ROM atau<em> web sites, </em>forum diskusi<em>, </em>perangkat lunak kolaboratif<em>, e-mail, blogs, wikis, computer aided assessment, </em>animasi pendidkan<em>, </em>simulasi<em>, </em>permainan<em>, </em>perangkat lunak manajemen pembelajaran<em>, electronic voting systems</em>,<em> </em>dan lain-lain. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda [Thomas Toth, 2003; Athabasca University, Wikipedia].<span id="more-173"></span></li>
</ul>
<p>Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu <em>e-learning</em>.<strong> </strong>E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahaan konsultan) yang memang bergerak dibidang penyediaan jasa e-learning untuk umum.</p>
<p>E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).</p>
<p><strong>Kategori:</strong> e-Learning</p>
<p>Dari puluhan atau bahkan ratusan definisi yang muncul dapat kita simpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-Learning.</p>
<p>Keuntungan menggunakan e-learning diantaranya :<br />
• menghemat waktu proses belajar mengajar,<br />
• mengurangi biaya perjalanan,<br />
• menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku),<br />
• menjangkau wilayah geografis yang lebih luas,<br />
• melatih pelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Untuk menyampaikan pembelajaran, e-learning selalu diidentikkan dengan penggunaan internet. Namun sebenarnya media penyampaian sangat beragam dari internet, intranet, cd, dvd, mp3, PDA, dan lain-lain. Penggunaan teknologi internet pada e-learning umumnya dengan pertimbangan memiliki jangkauan yang luas. Ada juga beberapa lembaga pendidikan dan perusahaan yang menggunakan jaringan intranet sebagai media e-learning sehingga biaya yang disiapkan relatif lebih murah.</p>
<p><strong>Pengertian Yang Terkait  E-LEARNING</strong></p>
<p>Sekilas perlu kita pahami ulang apa <em>e-Learning</em> itu sebenarnya. <em>E-Learning</em> adalah pembelajaran jarak jauh (<em>distance Learning</em>) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. <em>E-Learning</em> memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. <em>E-Learning</em> sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi <em>e-Learning</em> tidak harus didistribusikan secara <em>on-line</em> baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara <em>off-line</em> menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.</p>
<p>Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-Learning sebagai berikut :</p>
<ul>
<li><strong>Pembelajaran jarak jauh. </strong></li>
</ul>
<p>E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara <em>on-line</em> dan <em>real-time</em> ataupun secara <em>off-line atau archieved</em>.</p>
<p>Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.</p>
<ul>
<li><strong>Pembelajaran dengan perangkat komputer</strong></li>
</ul>
<p><em>E-Learning</em> disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan <em>cd drive</em> dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.</p>
<ul>
<li><strong>Pembelajaran formal vs. informal </strong></li>
</ul>
<p><em>E-Learning</em> bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. <em>E-Learning</em> secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa<em> e-Learning </em>untuk umum. <em>E-Learning</em> bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana <em>mailing list, e-newsletter</em> atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).</p>
<ul>
<li><strong>Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing. </strong></li>
</ul>
<p>Walaupun sepertinya <em>e-Learning</em> diberikan hanya melalui perangkat komputer, <em>e-Learning</em> ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu:</p>
<ol>
<ol>
<li><em>Subject Matter Expert</em> (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan</li>
</ol>
</ol>
<ol>
<ol>
<li><em>Instructional Designer</em> (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi <em>e-Learning</em> dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari</li>
</ol>
</ol>
<ol>
<ol>
<li><em>Graphic Designer</em> (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari</li>
</ol>
</ol>
<ol>
<li>Ahli bidang <em>Learning Management System</em> (LMS). Mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya.</li>
</ol>
<p>Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh.</p>
<p><em>E-Learning</em> tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-Learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.</p>
<p>Sumber : Perdian Utama/kompasiana.com</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://madrasahdigital.wordpress.com/category/inspirasi/e-learning/'>E-learning</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madrasahdigital.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madrasahdigital.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madrasahdigital.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madrasahdigital.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madrasahdigital.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madrasahdigital.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madrasahdigital.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madrasahdigital.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madrasahdigital.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madrasahdigital.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madrasahdigital.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madrasahdigital.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madrasahdigital.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madrasahdigital.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=173&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/11/e-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bddeb5c26467f9aee2bbd3db2180e713?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirojudinmursan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah</title>
		<link>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/rabiatul-adawiyyah/</link>
		<comments>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/rabiatul-adawiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 12:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirojudinmursan</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madrasahdigital.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Ibubapa Rabia&#8217;atul-Adawiyyah adalah orang miskin. Hinggakan dalam rumah mereka tidak ada minyak untuk memasang lampu dan tidak ada kain untuk membalut badan beliau. Beliau ialah anak yang keempat. Ibunya menyuruh ayahnya meminjam minyak dari jiran. tetapi bapa beliau telah membuat keputusan tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali kepada Allah. Bapa itu pun pergilah berpura-pura ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=171&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibubapa Rabia&#8217;atul-Adawiyyah adalah orang miskin. Hinggakan dalam rumah mereka tidak ada minyak untuk memasang lampu dan tidak ada kain untuk membalut badan beliau. Beliau ialah anak yang keempat. Ibunya menyuruh ayahnya meminjam minyak dari jiran. tetapi bapa beliau telah membuat keputusan tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali kepada Allah. Bapa itu pun pergilah berpura-pura ke rumah jiran dan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu agar tidak didengar oleh orang dalam rumah itu. Kemudian dia pun pulang dengan tangan kosong. Katanya orang dalam rumah itu tidak mahu membuka pintu.</p>
<p>Pada malam itu si bapa bermimpi yang ia bertemu dengan Nabi. Nabi berkata kepadanya,</p>
<p><em>&#8220;Anak perempuanmu yang baru lahir itu adalah seorang yang dikasihi Allah dan akan memimpin banyak orang Islam ke jalan yang benar. Kamu hendaklah pergi berjumpa Amir Basrah dan beri dia sepucuk surat yang bertulis &#8211; kamu hendaklah berselawat kepada Nabi seratus kali tiap-tiap malam dan empat ratus kali tiap-tiap malam Jumaat. Tetapi oleh kerana kamu tidak mematuhi peraturan pada hari Khamis sudah, maka sebagai dendanya kamu hendaklah membayar kepada pembawa surat ini empat ratus dinar.&#8221;<span id="more-171"></span></em></p>
<p>Bapa Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pun terus terjaga dari tidur dan pergi berjumpa dengan Amir tersebut, dengan air mata kesukaan mengalir di pipinya. Amir sungguh berasa gembira membaca surat itu dan faham bahawa beliau ada dalam perhatian Nabi. Amir pun memberi sedekah kepada fakir miskin sebanyak seribu dinar dan dengan gembira memberi bapa Rabi&#8217;atul-Adawiyyah sebanyak empat ratus dinar. Amir itu meminta supaya bapa Rabi&#8217;atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu kerana beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah.</p>
<p>Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi&#8217;atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi&#8217;atul-Adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.</p>
<p>Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. Beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah,</p>
<p><em>&#8220;Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau redho denganku. tetapi nyatakanlah keridhoanMu itu padaku.&#8221;</em></p>
<p>Tatkala itu terdengarlah suatu suara,</p>
<p>&#8220;Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu.&#8221;</p>
<p>Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari.</p>
<p>Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi&#8217;atul-Adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah;</p>
<p><em>&#8220;Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia.&#8221;</em></p>
<p>Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik Rabi&#8217;atul-Adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi&#8217;atul-adawiyyah.</p>
<p>Esoknya, Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi&#8217;atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pun pergi.</p>
<p>Suatu masa Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah terus berdoa,</p>
<p><em>&#8220;Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka&#8217;abah dan sekarang Engkau matikan keldaiku dan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan.&#8221;</em></p>
<p>Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka&#8217;abah, beliau pun duduk dan berdoa,</p>
<p><em>&#8220;Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka&#8217;abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan.&#8221;</em></p>
<p>Terdengar suara berkata, <em>&#8220;Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam.&#8221;</em></p>
<p>Suatu ketika yang lain, semasa Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menuju Ka&#8217;abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka&#8217;abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata,</p>
<p><em>&#8220;Apa hendakku buat dengan Ka&#8217;abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka&#8217;abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka&#8217;abah, aku mahu Allah.&#8221;</em></p>
<p>Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka&#8217;abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu. Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka&#8217;bah. Apabila sampai didapatinya Ka&#8217;abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata,</p>
<p><em>&#8220;Ka&#8217;abah itu telah pergi melawat Rabi&#8217;atul -Adawiyyah.&#8221;</em></p>
<p>Apabila Ka&#8217;bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi&#8217;atul-Adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi&#8217;atul-Adawiyyah dan berkata;</p>
<p><em>&#8220;Rabi&#8217;atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?&#8221;</em></p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab;</p>
<p><em>&#8220;Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka&#8217;abah mengambil masa empat belas tahun.&#8221;</em></p>
<p>Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata,</p>
<p><em>&#8220;Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang, tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk.&#8221;</em></p>
<p>Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pergi ke Ka&#8217;abah. Beliau berdoa;</p>
<p><em>&#8220;Oh Tuhan! Perlihatkanlah diriMu padaku.&#8221;</em></p>
<p>Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara;</p>
<p><em>&#8220;Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu.&#8221;</em></p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab,</p>
<p><em>&#8220;Aku tidak berdaya memandang Keagungan dan KebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu.&#8221;</em></p>
<p>Terdengar lagi suara berkata, &#8220;Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk mencapai Aku. Rabi&#8217;atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku.&#8221;</p>
<p>Kemudian suara itu menyuruh Rabi&#8217;atul-Adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi,</p>
<p>&#8220;Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami. Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini.&#8221;</p>
<p>Mendengar itu, Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, <em>&#8220;Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka&#8217;abah.&#8221; </em>Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.</p>
<p>Suatu hari Rabi&#8217;atul-Adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi&#8217;atul-Adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi&#8217;atul-Adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, &#8220;Lapan belas.&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi.</p>
<p>Kemudian datang semula. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi&#8217;atul-Adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, &#8220;Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : <em>&#8220;Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda.</em> Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan.&#8221;</p>
<p>Suatu hari Rabi&#8217;atul-Adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, <em>&#8220;Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, &#8220;Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah.&#8221;</em></p>
<p>Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi&#8217;atul-Adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, &#8220;Kenapa binatang itu lari?&#8221; Sebagai jawapan, Rabi&#8217;atul-adawiyyah bertanya, &#8220;Apa kamu makan hari ini?&#8221; Hassan menjawab, &#8220;Daging.&#8221; Rabi&#8217;atul- Adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering.&#8221;</p>
<p>Suatu hari Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, <em>&#8220;Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya.&#8221;</em></p>
<p>Dengan penuh kehendak untuk mendapat publisiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi&#8217;atul-Adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia&#8217; Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi&#8217;atul-Adawiyyah dan berkata, &#8220;Rabi&#8217;atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana.&#8221;</p>
<p>Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, &#8220;Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia&#8217; Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?&#8221; Rabi&#8217;atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, <em>&#8220;Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah.&#8221;</em></p>
<p>Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah tentang perkara kahwin. Beliau menjawab, &#8220;Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku.&#8221;</p>
<p>Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi&#8217;atul-adawiyyah menjawab, &#8220;Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah.&#8221;</p>
<p>Beliau ditanya, &#8220;Dari mana kamu datang?&#8221;</p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, <em>&#8220;Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah.&#8221;</em></p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. Dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, <em>&#8220;Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan.&#8221;</em></p>
<p>Orang bertanya kepada Rabi&#8217;atul-adawiyyah, &#8220;Adakah kamu lihat Tuhan yang kamu sembah itu?</p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab,<em> &#8220;Jika aku tidak lihat Dia, aku tidak akan menyembahNya.&#8221;</em></p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah sentiasa menangis kerana Allah. Orang bertanya kepadanya sebab beliau menangis. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, <em>&#8220;Aku takit berpisah walau sedetik pun dengan Tuhan dan tidak boleh hidup tanpa Dia. Aku takut Tuhan akan berkata kepadaku tatkala menghembuskan nafas terakhir &#8211; jauhkan dia dariKu kerana dia tidak layak berada di majlisKu.&#8221;</em></p>
<p>Allah suka dengan hambaNya yang bersyukur apabila ia berusaha sepertimana ia bersyukur tatkala menerima kurniaNya (iaitu ia menyedari yang ia tidak sanggup berusaha untuk Allah tanpa pertolongan dan kurniaan Allah).</p>
<p>Seorang bertanya kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, <em>&#8220;Adakah Allah menerima taubat orang yang membuat dosa?&#8221;</em></p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, <em>&#8220;Itu hanya apabila Allah Mengurniakan kuasaNya kepada pembuat dosa itu yang ia digesa untuk mengakui dosanya dan ingin bertaubat. Hanya dengan itu Allah akan menerima taubatnya kerana dosa yang telah dilakukannya.&#8221;</em></p>
<p>Sholeh Al-Qazwini selalu mengajar muridnya, &#8220;Siapa yang selalu mengetuk pintu rumah seseorang akhirnya satu hari pintu itu pasti akan dibuka untuknya.&#8221; Satu hari Rabi&#8217;atul-Adawiyyah mendengar beliau bercakap demikian. Rabi&#8217;atul-adawiyyah pun berkata kepada Sholeh, <em>&#8220;Berapa lama kamu hendak berkata demikian menggunakan perkataan untuk masa depan (Futuretense) iaitu &#8220;Akan dibuka&#8221;? Adakah pintu itu pernah ditutup? Pintu itu sentiasa terbuka.&#8221; </em>Sholeh mengakui kebenarannya itu.</p>
<p>Seorang hamba Allah berteriak, &#8220;Aduh sakitnya!&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah bertemu dengan orang itu dan berkata, &#8220;Oh! bukannya sakit.&#8221; Orang itu bertanya kenapa beliau berkata begitu. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, <em>&#8220;Kerana sakit itu adalah satu nikmat bagi orang yang sangat mulia di sisi Allah. Mereka merasa seronok menanggung sakit itu.&#8221;</em></p>
<p>Suatu hari rabi&#8217;atul-adawiyyah sedang melihat orang sedang berjalan dengan kepalanya berbalut. Beliau bertanya kenapa kepalanya dibalut. Orang itu menjawab mengatakan ia sakit kepala. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah bertanya, &#8220;Berapa umurmu?&#8221; Jawab orang itu, &#8220;Tiga puluh.&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah bertanya lagi, &#8220;Hingga hari ini begaimana keadaanmu?&#8221; Kata orang itu, &#8220;Sihat-sihat sahaja.&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah pula berkata, <em>&#8220;Selama tiga puluh tahun Allah menyihatkan kamu, tetapi kamu tidak mengibarkan bendera pada badanmu untuk menunjukkan kesyukuran kepada Allah, dan agar manusia bertanya kenapa kamu gembira sekali dan setelah mengetahui kurniaan Tuhan kepadamu, mereka akan memuji Allah. Sebaliknya kamu, setelah mendapat sakit sedikit, membalut kepalamu dan pergi ke sana ke mari menunjukkan sakitmu dan kekasaran Tuhan terhadapmu. Kenapa kamu berlaku sehina itu!&#8221;</em></p>
<p>Suatu hari khadamnya berkata, &#8220;Puan, keluarlah dan mari kita melihat keindahan kejadian Tuhan di musim bunga ini.&#8217; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, <em>&#8220;Duduklah dalam rumah seperti aku berseorangan dan melihat yang menjadikan. Aku lihat Dia dan bukan kejadianNya.&#8221;</em></p>
<p>Suatu hari, orang bertanya kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah kenapa beliau tidak menyimpan pisau dalam rumahnya. Beliau menjawab, <em>&#8220;Memotong itu adalah kerja pisau. Aku takut pisau itu akan memotong pertalian aku dengan Allah yang ku cintai.&#8221;</em></p>
<p>Suatu masa Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berpuasa selama lapan hari. Pada hari terakhir, beliau merasa lapar sedikit. Datang seorang hamba Allah membawa minuman yang manis dalam sebuah cawan. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah ambil minuman itu dan meletakkannya di atas lantai di satu penjuru rumahnya itu. Beliau pun pergi hendak memasang lampu. Datang seekor kucing lalu menumpahkan minuman dalam cawan itu. Melihat itu, terfikirlah Rabi&#8217;atul-Adawiyyah hendak minum air sahaja malam itu.<br />
Tatkala ia hendak mencari bekas air (tempayan), lampu pun padam. Bekas air itu jatuh dan pecah airnya bertaburan di atas lantai. Rabi&#8217;atul-adawiyyah pun mengeluh sambil berkata, &#8220;Tuhanku! Kenapa Kau lakukan begini kepadaku?&#8221;</p>
<p>Terdengar suara berkata, &#8220;Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, jika kamu hendakkan kurnia dunia, Aku boleh berikan padamu, tetapi akan menarik balik darimu siksaan dan kesakitan yang Aku beri padamu. Kurnia dunia dan siksaan Aku tidak boleh duduk bersama-sama dalam satu hati. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, kamu hendak satu satu perkara dan Aku hendak satu perkara lain. Dua kehendak yang berlainan tidak boleh duduk bersama dalam satu hati.&#8221;</p>
<p>Dengan serta-merta beliau pun membuangkan kehendak kepada keperluan hidup ini, seperti orang yang telah tidak berkehendakkan lagi perkara-perkara dunia ini semasa nyawa hendak bercerai dengan badan. Tiap-tiap pagi beliau berdoa, <em>&#8220;Tuhan! Penuhilah masaku dengan menyembah dan mengingatMu agar orang lain tidak mengajakku dengan kerja-kerja lain.&#8221;</em></p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah ditanya, <em>&#8220;Kenapa kamu sentiasa menangis-nangis?&#8221;</em></p>
<p>Beliau menjawab, <em>&#8220;Kerana ubat penyakit ini ialah berdampingan dengan Tuhan.&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Kenapa kamu memakai pakainan koyak dan kotor?&#8221; Beliau ditanya lagi, &#8220;Kamu ada kawan yang kaya, dan dia boleh memberimu pakaian baru.&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, <em>&#8220;Aku berasa malu meminta perkara dunia dari sesiapa pun yang bukan milik mereka kerana perkara-perkara itu adalah amanah Allah kepada mereka dan Allah jua yang memiliki segala- galanya.&#8221;</em></p>
<p>Orang berkata, &#8220;Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, Tuhan mengurniakan ilmu dan kenabian kepada lelaki, dan tidak pernah kepada perempuan, tentu kamu tidak dapat mencapai pangkat kewalian yang tinggi itu (kerana perempuan). Oleh itu apakah faedahnya usaha kamu menuju ke taraf tersebut?&#8221;</p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab, &#8220;Apa yang kamu kata itu benar, tetapi cubalah ketakan kepadaku siapakah perempuannya yang telah mencapai taraf kehampiran dengan Allah dan lalu berkata, &#8220;Akulah Yang Hak&#8221;. Di samping itu tidak ada orang &#8220;kasi&#8221; yang perempuan. Hanya didapati dalam kaum lelaki sahaja.&#8221;</p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata,<em> &#8220;Seorang perempuan yang sentiasa bersembahyang kerana Allah adalah lelaki dan bukan perempuan.&#8221;</em></p>
<p>Satu hari Rabi&#8217;atul-Adawiyyah jatuh sakit. Orang bertanya kepadanya sebab ia sakit. Beliau berkata, &#8220;Hatiku cenderung hendak mencapai Syurga, satu hari yang lampau. Kerana itu, Allah jatuhkan sakit ini sementara sebagai hukuman.&#8221;</p>
<p>Hassan Al-Basri datang berjumpa Rabi&#8217;atul-Adawiyyah yang sedang sakit. Di pintu rumah beliau itu, Hassan bertemu dengan Amir Al-Basri yang sedang duduk dengan sebuah beg mengandungi wang. Amir itu menangis. Apabila ditanya kenapa beliau menangis, beliau menjawab, &#8220;Aku hendak menghadiahkan wang kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah, tetapi aku tahu dia tidak akan menerimanya. Kerana itulah aku menangis. Bolehkah kamu menjadi pengantara dan meminta dia menerima hadiahku ini?&#8221; Hassan pun pergilah membawa wang itu kepada Rabi&#8217;atul-Adawiyyah dan meminta beliau menerima wang itu. Tetapi Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata,</p>
<p><em>&#8220;Oleh kerana aku telah kenal Allah, maka aku tidak lagi mahu bersembang dengan manusia dan tidak menerima hadiah dari mereka dan juga tidak mahu memberi apa-apa kepada mereka. Di samping itu aku tidak mahu sama ada wang itu didapatinya secara halal atau haram.&#8221;</em></p>
<p>Sufyan Al-Thauri berkata, &#8220;Kenapa kamu tidak memohon kepada Allah untuk menyembuhkan kamu?&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab,<em> &#8220;Kenapa aku merungut pula kerana itu hadiah Allah bagiku. Bukankah salah jika tidak mahu menerima hadiah Tuhan? Adakah bersahabat namanya jika kehendak sahabat itu tidak kita turuti?&#8221;</em></p>
<p>Malik bin Dinar pergi mengunjungi Rabi&#8217;atul-adawiyyah satu hari. Dilihatnya dalam rumah Rabi&#8217;atul-Adawiyyah satu balang yang pecah dan mengandungi air untuk minum dan mengambil wuduk, satu bata sebagai bantal dan tikar yang buruk sebagai alas tempat tidur. Malik berkata, &#8220;Jika kamu izinkan, boleh aku suruh seorang kawanku yang kaya memberimu semua keperluan harian.&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menjawab;</p>
<p>&#8220;Adakah satu Tuhan yang menanggung aku, dan Tuhan lain pula menanggung kawanmu itu? Jika tidak, adakah Tuhan lupa kepadaku kerana aku miskin dan ingat kepada kawanmu itu kerana ia kaya? Sebenarnya Allah itu tidak lupa kepada siapa pun. Kita tidak perlu memberi ingat kepada Tuhan itu. Dia lebih mengetahui apa yang baik untuk kita. Dia yang memberi kurnia dan Dia juga yang menahan kurnia itu.&#8221;</p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, <em>&#8220;Orang yang cinta kepada Allah itu hilang dalam melihat Allah hingga kesedaran kepada yang lain lenyap darinya dan Dia tidak boleh membezakan mana sakit dan mana senang.&#8221;</em></p>
<p>Seorang Wali Allah datang dan merungut tentang dunia. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, <em>&#8220;Nampaknya kamu sangat cinta kepada dunia, kerana orang yang bercakap tentang sesuatu perkara itu tentulah dia cenderung kepada perkara tersebut.&#8221;</em></p>
<p>Satu hari, Sufyan Al-Thauri pergi berjumpa Rabi&#8217;atul-adawiyyah. Rabi&#8217;atul-Adawiyyah menghabiskan masa malam itu dengan sembahyang. Apabila sampai pagi, beliau berkata, &#8220;Pujian bagi Allah yang telah memberkati kita dapat sembahyang sepanjang malam. Untuk tanda kesyukuran, marilah kita puasa pula sepanjang hari ini.&#8221;</p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah selalu berdoa demikian, &#8220;Tuhanku! Apa sahaja yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan dunia, berikanlah kepada musuhku dan apa sahaja kebaikan yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan akhirat, berikanlah kepada orang-orang yang berIman, kerana aku hanya hendakkan Engkau kerana Engkau. Biarlah aku tidak dapat Syurga atau Neraka. Aku hendak pandangan Engkau padaku sahaja.&#8221;</p>
<p>Sufyan Al -Thauri menghabiskan masa sepanjang malam bercakap-cakap tentang ibadat kepada Allah dengan Rabi&#8217;atul-Adawiyyah. Di pagi hari Al-Thauri berkata, &#8220;Kita telah menghabiskan masa malam tadi dengan sebaik-baiknya.&#8221; Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata, &#8220;<em>Tidak, kita habiskan masa dengan sia-sia kerana sepanjang percakapan itu kamu berkata perkara-perkara yang memuaskan hatiku sahaja dan aku pula memikirkan perkara yang kamu sukai pula. Masa itu kita buang tanpa mengenang Allah. Adalah lebih baik jika aku duduk seorang diri dan menghabiskan masa malam itu dengan mengenang Allah.&#8221;</em></p>
<p>Rabi&#8217;atul-Adawiyyah berkata;</p>
<p>&#8220;Doaku padaMu ialah sepanjang hayatku berilah aku dapat mengingatMu dan apabila mati kelak berilah aku dapat memandangMu.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : www.suluk98.tripod.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://madrasahdigital.wordpress.com/category/dunia-sufi/'>dunia Sufi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madrasahdigital.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madrasahdigital.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madrasahdigital.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madrasahdigital.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madrasahdigital.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madrasahdigital.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madrasahdigital.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madrasahdigital.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madrasahdigital.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madrasahdigital.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madrasahdigital.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madrasahdigital.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madrasahdigital.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madrasahdigital.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=171&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/rabiatul-adawiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bddeb5c26467f9aee2bbd3db2180e713?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirojudinmursan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dzunnun al-Misry</title>
		<link>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/dzunnun-al-misry/</link>
		<comments>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/dzunnun-al-misry/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 12:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirojudinmursan</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madrasahdigital.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Sufi agung yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al-A&#8217;rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=169&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sufi agung yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al-A&#8217;rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan kelahirannya.</p>
<p><strong>Perjalanan menuju Mesir</strong><br />
Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsi Suhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Sebagaimana lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Allah mencari jati diri, menggapai cinta dan ma&#8217;rifatulah yang hakiki.<br />
Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Allah ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya : &#8220;ada apa ini?&#8221;. Orang tersebut menjawab : Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik &#8220;. Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. &#8220;Fenomena apa lagi ini ?&#8221; begitu pikir sang wali. Iapun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab : &#8220;Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga &#8220;. Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu : &#8220;Ya Allah aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaan tapi tidak bersabar &#8220;. Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kairo).<span id="more-169"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perjalanan ke dunia tasawuf</strong><br />
Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya. Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor burung lemah tiada daya.</p>
<p>Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya &#8220;Wahai Abu al-Faidl !&#8221; begitu ia memanggil demi menghormatinya &#8220;Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT ? &#8220;. &#8220;Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu&#8221;. Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki. Al-Maghriby semakin penasaran &#8220;Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku&#8221; lalu Dzunnun berkata : &#8220;Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkum berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad : &#8220;Cukup… aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah SWT. Akupun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku&#8221;.<br />
<strong>Perjalanan ruhaniah</strong><br />
Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufipun selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.<br />
Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para wali, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah.<br />
Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam senyap laki-laki itu berdoa &#8220;Ya Allah Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku… Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-Mu dengan kesucian ikhlas. Engkaulah Zat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya&#8217; dari datangnya kebimbangan. Engkaulah yang menentramkan para wali, Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka, Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara tiada asa &#8220;. Dengan khusyu&#8217; Dzunnun menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang wali ini.</p>
<p>Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqottom. &#8221; Aku harus menemuinya &#8221; begitu ia bertekad kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun bisa menemukan kediaman lelaki misterius. Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan. Suatu ketika Dzunnun bertanya : &#8220;Apakah keselamatan itu?&#8221;. Orang tersebut menjawab &#8220;Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah (mengevaluasi diri)&#8221;. &#8220;Selain itu ?&#8221;. pinta Dzunnun seperti kurang puas. &#8220;Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!&#8221;. &#8220;Selain itu ?&#8221; pinta Dzunnun lagi. &#8220;Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yang mencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang haus&#8221;. Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kealiman Dzunnun al-Misri</strong><br />
Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf. Betapa mahalnya ketika tasawuf berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun al-Misri yang dalam dirinya tertata apik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf. Nalar siapa yang mampu membanyah hujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari untaian mutiara hikmahnya. Dialah orang Mesir pertama yang berbicara tentang urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaat para wali Allah.<br />
Maslamah bin Qasim mengatakan &#8220;Dzunnun adalah seorang yang alim, zuhud wara&#8217;, mampu memberikan fatwa dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau termasuk perawi Hadits &#8220;. Hal senada diungkapkan Al-Hafidz Abu Nu&#8217;aim dalam Hilyah-nya dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun telah meriwayatkan hadits dari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha&#8217;iah, Fudail ibn Iyadl, Ibn Uyainah, Muslim al-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah al-Hasan bin Mus&#8217;ab al-Nakha&#8217;i, Ahmad bin Sobah al-Fayyumy, al-Tho&#8217;i dan lain-lain. Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahwa Dzunnun telah meriwayatkan hadis Nabi dari Ibn Umar yang berbunyi &#8221; Dunia adalah penjara orang mu&#8217;min dan surga bagi orang kafir&#8221;.<br />
Di samping lihai dalam ilmu-ilmu Syara&#8217;, sufi Mesir ini terkenal dengan ilmu lain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan datangnya tanpa sebab. Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya saja.<br />
Karena demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali ini, suatu ketika ia memaparkan suatu masalah pada orang di sekitarnya dengan bahasa Isyarat dan Ahwal yang menawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan ilmu &#8216;dhahir&#8217; timbul rasa iri dan dan tidak senang karena Dzunnun telah berani masuk dalam wilayah (ilmu fiqih) mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai kelebihan ilmu Robbany yang tidak mereka punyai. Tanpa pikir panjang mereka mengadukannya pada Khalifah al-Mutawakkil di Baghdad dengan tuduhan sebagai orang Zindiq yang memporak-porandakan syari&#8217;at. Dengan tangan dirantai sufi besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya. &#8220;Benarkah engkau ini zahidnya negeri Mesir?&#8221;. Tanya khalifah kemudian. &#8220;Begitulah mereka mengatakan&#8221;. Salah satu pegawai raja menyela : &#8221; Amir al-Mu&#8217;minin senang mendengarkan perkataan orang yang zuhud, kalau engkau memang zuhud ayo bicaralah&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata &#8220;Wahai amiirul mukminin…. Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya dengan cara yang rahasia, tulus hanya karena-Nya. Kemudian Allah memuliakan mereka dengan balasan rasa syukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang yang buku catatan amal baiknya kosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku tadi sampai ke hadirat Allah SWT, Allah akan mengisinya dengan rahasia yang diberikan langsung pada mereka. Badan mereka adalah duniawi, tapi hati adalah samawi…….&#8221;.<br />
Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata Khalifah terus mengalir. Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah terpenuhi oleh rasa hormat yang mendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa khalifah berkata pada orang-orang datang menghadiri mahkamah ini : &#8220;Kalau mereka ini orang-orang Zindiq maka tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini&#8221;. Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakil ketika disebutkan padanya orang yang Wara&#8217; maka dia akan menangis dan berkata &#8220;Ketika disebut orang yang Wara&#8217; maka marilah kita menyebut Dzunnun&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pujian para ulama&#8217; terhadap Dzunnun</strong><br />
Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji. Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurna sudah memujinya. Apa artinya sanjungan berjuta manusia dibanding belaian kasih Yang Maha Penyayang ?. Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmah dan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir.<br />
Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan &#8220;Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara&#8217;, Haal, dan adab&#8221;. Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al-Jalak mengatakan &#8220;Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan seperti keempat orang ini : Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry&#8221;. Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn Araby Sulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan &#8220;Dzunnun telah menjadi Imam, bahkan Imam kita&#8221;.<br />
Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata. Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita : “Sahl al-Tustari (salah satu Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandar pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani berbicara. Suatu ketika ia menangis, bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyaraat yang menakjubkan. Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab &#8220;Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih hidup, aku tidak berani berbicara tidak berani bersandar pada mihrab karena menghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padaku padaku : berbicaralah!! Engkau telah diberi izin&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cinta dan ma&#8217;rifat</strong><br />
Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : &#8220;Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?&#8221;. &#8220;Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku &#8220;,jawab Dzunnun. &#8220;kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku&#8221;. Lebih jauh tentang ma&#8217;rifat ia memaparkan : &#8220;Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya&#8221;. &#8220;Ma&#8217;rifat bisa didapat dengan tiga cara: dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan-keputusan-Nya, bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluq, bagaimana Allah menjadikannya&#8221;.<br />
Tentang cinta ia berkata : &#8220;Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selain Allah!. Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punya kebutuhan pada selain Allah&#8221;. &#8220;Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perbuatan, perintah dan sunnah-sunnahnya&#8221;. &#8220;Pangkal dari jalan (Islam) ini ada pada empat perkara: “cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikuti pada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan)&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Karomah Dzunnun al-Misri</strong><br />
Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami&#8217; al-karamaat “ mengatakan: “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku &#8220;engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira&#8221;. Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota Balkh (kota di Iran).<br />
Suatu hari Abu Ja&#8217;far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan &#8220;Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya&#8221;. Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.</p>
<p>Imam Abdul Wahhab al-Sya&#8217;roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata &#8220;Anakku telah dimangsa buaya&#8221;. Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nil sambil berkata &#8220;Ya Allah… keluarkan buaya itu&#8221;. Lalu keluarlah buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata &#8220;Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah SWT&#8221;.</p>
<p>Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misri yang wafat pada tahun 245 H. semoga Allah me-ridlai-nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : www.al-hasani.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://madrasahdigital.wordpress.com/category/dunia-sufi/'>dunia Sufi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madrasahdigital.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madrasahdigital.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madrasahdigital.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madrasahdigital.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madrasahdigital.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madrasahdigital.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madrasahdigital.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madrasahdigital.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madrasahdigital.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madrasahdigital.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madrasahdigital.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madrasahdigital.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madrasahdigital.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madrasahdigital.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=169&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/dzunnun-al-misry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bddeb5c26467f9aee2bbd3db2180e713?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirojudinmursan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar</title>
		<link>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/as-syadzili-ali-bin-abdillah-bin-abdul-jabbar/</link>
		<comments>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/as-syadzili-ali-bin-abdillah-bin-abdul-jabbar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 12:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirojudinmursan</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madrasahdigital.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Nama lengkap adalah as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampai pada Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan putranya Fatimah al-Zahra&#8217;, putri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Syekh Abu al-Hasan dilahirkan di negara Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang). Imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=165&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama lengkap adalah <strong><em>as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar</em></strong>, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampai pada <strong>Hasan bin Ali bin Abi Thalib</strong> dan putranya Fatimah al-Zahra&#8217;, putri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.<br />
Syekh Abu al-Hasan dilahirkan di negara Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang).</p>
<p><strong>Imam Syadzili dan kelimuan </strong></p>
<p>Di kota kelahirannya itu Syadzili pertama kali menghafal Alquran dan menerima pelajaran ilmi-ilmu agama, termasuk mempelajari fikih madzhab Imam Malik. Beliau berhasil memperoleh ilmu yang bersumber pada Alquran dan Sunnah demikian juga ilmu yang bersumber dari akal yang jernih. Berkat ilmu yang dimilikinya, banyak para ulama yang berguru kepadanya. Sebagian mereka ada yang ingin menguji kepandaian Syekh Abu al-Hasan. Setelah diadakan dialog ilmiah akhirnya mereka mengakui bahwa beliau mempunyai ilmu yang luas, sehingga untuk menguras ilmunya seakan-akan merupakan hal yang cukup susah. Memang sebelum beliau menjalani ilmu thariqah, ia telah membekali dirinya dengan ilmu syariat yang memadahi.<span id="more-165"></span></p>
<p><strong>Imam Syadzili dan Thariqah</strong></p>
<p>Hijrah atau berkelana bisa jadi merupakan sarana paling efektif untuk menemukan jati diri. Tak terkecuali Imam Syadzili. Orang yang lebih dikenal sebagai sufi agung pendiri thariqah Syadziliyah ini juga menapaki masa hijrah dan berkelana<br />
Asal muasal beliau ingin mencari jalan thariqah adalah ketika masuk negara Tunis sufi besar ini ingin bertemu dengan para syekh yang ada di negeri itu. Di antara Syekh-syekh yang bisa membuat hatinya mantap dan berkenan adalah Syekh Abi Said al-Baji. Keistimewaan syekh ini adalah sebelum Abu al-Hasan berbicara mengutarakannya, dia telah mengetahui isi hatinya. Akhirnya Abu al-Hasan mantap bahwa dia adalah seorang wali. Selanjutnya dia berguru dan menimba ilmu darinya. Dari situ, mulailah Syekh Abu al-Hasan menekuni ilmu thariqah.<br />
Untuk menekuni tekad ini, beliau bertandang ke berbagai negara, baik negara kawasan timur maupun negara kawasan barat. Setiap derap langkahnya, hatinya selalu bertanya, &#8220;Di tempat mana aku bisa menjumpai seorang syekh (mursyid)?&#8221;. Memang benar, seorang murid dalam langkahnya untuk sampai dekat kepada Allah itu bagaikan kapal yang mengarungi lautan luas. Apakah kapal tersebut bisa berjalan dengan baik tanpa seorang nahkoda (mursyid). Dan inilah yang dialami oleh syekh Abu al-Hasan.</p>
<p>Dalam pengembaraannya Imam Syadzili akhirnya sampai di Iraq, yaitu kawasan orang-orang sufi dan orang-orang shalih. Di Iraq beliau bertemu dengan Syekh Shalih Abi al-Fath al-Wasithi, yaitu syekh yang paling berkesan dalam hatinya dibandingkan dengan syekh di Iraq lainnya. Syekh Abu al-Fath berkata kepada Syekh Abu al-Hasan, &#8220;Hai Abu al-Hasan engkau ini mencari Wali Qutb di sini, padahal dia berada di negaramu? kembalilah, maka kamu akan menemukannya&#8221;.<br />
Akhirnya, beliau kembali lagi ke Maroko, dan bertemu dengan Syekh al-Shiddiq al-Qutb al-Ghauts Abi Muhammad Abdussalam bin Masyisy al-Syarif al-Hasani. Syekh tersebut tinggal di puncak gunung.<br />
Sebelum menemuinya, beliau membersihkan badan (mandi) di bawah gunung dan beliau datang laksana orang hina dina dan penuh dosa. Sebelum beliau naik gunung ternyata Syekh Abdussalam telah turun menemuinya dan berkata, &#8220;Selamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar……&#8221;. Begitu sambutan syekh tersebut sembari menuturkan nasabnya sampai Rasulullah SAW. Kemudia dia berkata, &#8220;Kamu datang kepadaku laksana orang yang hina dina dan merasa tidak mempunyai amal baik, maka bersamaku kamu akan memperoleh kekayaan dunia dan akhirat”.<br />
Akhirnya beliau tinggal bersamanya untuk beberapa hari, sampai hatinya mendapatkan pancaran ilahi. Selama bersama Syekh Abdussalam, beliau melihat beberapa keramat yang dimilikinya. Pertemuan antara Syekh Abdussalam dan Syekh Abu al-Hasan benar-benar merupakan pertemuan antara mursyid dan murid, atau antara muwarrits dan waarits. Banyak sekali futuhat ilahiyyah yang diperoleh Syekh Abu al-Hasan dari guru agung ini.<br />
Di antara wasiat Syekh Abdussalam kepada Syadzili adalah, &#8220;Pertajam penglihatan keimanan, maka kamu akan menemukan Allah pada setiap sesuatu&#8221;.</p>
<p><strong>Tentang nama Syadzili</strong><br />
Kalau dirunut nasab maupun tempat kelahiran syekh agung ini, tidak didapati sebuah nama yang memungkinkan ia dinamakan Syadzili. Dan memang, nama tersebut adalah nama yang dia peroleh dalam perjalanan ruhaniah.<br />
Dalam hal ini Abul Hasan sendiri bercerita : &#8220;Ketika saya duduk di hadapan Syekh, di dalam ruang kecil, di sampingku ada anak kecil. Di dalam hatiku terbersit ingin tanya kepada Syekh tentang nama Allah. Akan tetapi, anak kecil tadi mendatangiku dan tangannya memegang kerah bajuku, lalu berkata, &#8220;Wahai, Abu al–Hasan, kamu ingin bertanya kepada Syekh tentang nama Allah, padahal sesungguhnya kamu adalah nama yang kamu cari, maksudnya nama Allah telah berada dalam hatimu. Akhirnya Syekh tersenyum dan berkata, &#8220;Dia telah menjawab pertanyaanmu&#8221;.<br />
Selanjutnya Syekh Abdussalam memerintahkan Abu al-Hasan untuk pergi ke daerah Afriqiyyah tepatnya di daerah bernama Syadzilah, karena Allah akan menyebutnya dengan nama Syadzili –padahal pada waktu itu Abu al-Hasan belum di kenal dengan nama tersebut.<br />
Sebelum berangkat Abu al-Hasan meminta wasiat kepada Syekh, kemudian dia berkata, &#8220;Ingatlah Allah, bersihkan lidah dan hatimu dari segala yang mengotori nama Allah, jagalah anggota badanmu dari maksiat, kerjakanlah amal wajib, maka kamu akan memperoleh derajat kewalian. Ingatlah akan kewajibanmu terhadap Allah, maka kamu akan memperoleh derajat orang yang wara&#8217;. Kemudian berdoalah kepada Allah dengan doa, &#8220;Allahumma arihnii min dzikrihim wa minal &#8216;awaaridhi min qibalihim wanajjinii min syarrihim wa aghninii bi khairika &#8216;an khairihim wa tawallanii bil khushuushiyyati min bainihim innaka &#8216;alaa kulli syai&#8217;in qadiir&#8221;.<br />
Selanjutnya sesuai petunjuk tersebut, Syekh Abu al-Hasan berangkat ke daerah tersebut untuk mengetahui rahasia yang telah dikatakan kepadanya. Dalam perjalanan ruhaniah kali ini dia banyak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang telah dialami oleh para wali-wali pilihan. Akan tetapi dengan cobaan tersebut justru semakin menambah tingkat keimanannya dan hatinya semakin jernih.<br />
Sesampainya di Syadzilah, yaitu daerah dekat Tunis, dia bersama kawan-kawan dan muridnya menuju gua yang berada di Gunung Za&#8217;faran untuk munajat dan beribadah kepada Allah SWT. Selama beribadah di tempat tersebut salah satu muridnya mengetahui bahwa Syekh Abu al-Hasan banyak memiliki keramat dan tingkat ibadahnya sudah mencapai tingkatan yang tinggi.<br />
Pada akhir munajat-nya ada bisikan suara , &#8220;Wahai Abu al-Hasan turunlah dan bergaul-lah bersama orang-orang, maka mereka akan dapat mengambil manfaat darimu, kemudian beliau berkata: &#8220;Ya Allah, mengapa Engkau perintahkan aku untuk bergaul bersama mereka, saya tidak mampu&#8221; kemudian dijawab: &#8220;Sudahlah, turun Insya Allah kamu akan selamat dan kamu tidak akan mendapat celaan dari mereka&#8221; kemudian beliau berkata lagi: &#8220;Kalau aku bersama mereka, apakah aku nanti makan dari dirham mereka? Suara itu kembali menjawab : &#8220;Bekerjalah, Aku Maha Kaya, kamu akan memperoleh rizik dari usahamu juga dari rizki yang Aku berikan secara gaib.<br />
Dalam dialog ilahiyah ini, dia bertanya kepada Allah, kenapa dia dinamakan syadzili padahal dia bukan berasal dari syadzilah, kemudian Allah menjawab: &#8220;Aku tidak mnyebutmu dengan syadzili akan tetapi kamu adalah syadzdzuli, artinya orang yang mengasingkan untuk ber-khidmat dan mencintaiku”.</p>
<p><strong>Imam Syadzili menyebarkan thariqah Syadziliyah</strong><br />
Dialog ilahiyah yang sarat makna dan misi ini membuatnya semakin mantap menapaki dunia tasawuf. Tugas selanjutnya adalah bergaul bersama masyarakat, berbaur dengan kehidupan mereka, membimbing dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan ketenangan hidup. Dan Tunis adalah tempat yang dituju wali agung ini.<br />
Di Tunis Abul Hasan tinggal di Masjid al-Bilath. Di sekitar tempat tersebut banyak para ulama dan para sufi. Di antara mereka adalah karibnya yang bernama al-Jalil Sayyidi Abu al-Azaim, Syekh Abu al-Hasan al-Shaqli dan Abu Abdillah al-Shabuni.<br />
Popularitas Syekh Abu al-Hasan semerbak harum di mana-mana. Aromanya sampai terdengar di telinga Qadhi al-Jama&#8217;ah Abu al-Qasim bin Barra&#8217;. Namun aroma ini perlahan membuatnya sesak dan gerah. Rasa iri dan hasud muncul di dalam hatinya. Dia berusaha memadamkan popularitas sufi agung ini. Dia melaporkan kepada Sultan Abi Zakaria, dengan tuduhan bahwa dia berasal dari golongan Fathimi.<br />
Sultan meresponnya dengan mengadakan pertemuan dan menghadirkan Syekh Abu al-Hasan dan Qadhi Abul Qosim. Hadir di situ juga para pakar fiqh. Pertemuan tersebut untuk menguji seberapa kemampuan Syekh Abu al-Hasan.<br />
Banyak pertanyaan yang dilontarkan demi menjatuhkan dan mempermalukan Abul Hasan di depan umum. Namun, sebagaimana kata-kata mutiara Imam Syafi&#8217;I, dalam ujian, orang akan terhina atau bertambah mulia. Dan nyatanya bukan kehinaan yang menimpa wali besar. Kemuliaan, keharuman nama justru semakin semerbak memenuhi berbagai lapisan masyarakat.<br />
Qadhi Abul Qosim menjadi tersentak dan tertunduk malu. Bukan hanya karena jawaban-jawaban as-Syadzili yang tepat dan bisa menepis semua tuduhan, tapi pengakuan Sultan bahwa Syekh Abu al-Hasan adalah termasuk pemuka para wali. Rasa iri dan dengki si Qadhi terhadap Syekh Abu al-Hasan semakin bertambah, kemudian dia berusaha membujuk Sultan dan berkata: &#8220;Jika tuan membiarkan dia, maka penduduk Tunis akan menurunkanmu dari singgasana&#8221;.<br />
Ada pengakuan kebenaran dalam hati, ada juga kekhawatiran akan lengser dari singgasana. Sultan demi mementingkan urusan pribadi, menyuruh para ulama&#8217; fikih untuk keluar dari balairung dan menahan Syekh Abu al-Hasan untuk dipenjara dalam istana.<br />
Kabar penahanan Syekh Abul Hasan mendorong salah seorang sahabatnya untuk menjenguknya. Dengan penuh rasa prihatin si karib berkata, &#8220;Orang-orang membicarakanmu bahwa kamu telah melakukan ini dan itu&#8221;. Sahabat tadi menangis di depan Syekh Abu al-Hasan lalu dengan percaya diri dan kemantapan yang tinggi, Syekh tersenyum manis dan berkata, &#8220;Demi Allah, andaikata aku tidak menggunakan adab syara&#8217; maka aku akan keluar dari sini seraya mengisyaratkan dengan jarinya-. Setiap jarinya mengisyaratkan ke dinding maka dinding tersebut langsung terbelah, kemudian Syekh berkata kepadaku: &#8220;Ambilkan aku satu teko air, sajadah dan sampaikan salamku kepada kawan-kawan. Katakan kepada mereka bahwa hanya sehari saja kita tidak bertemu dan ketika shalat maghrib nanti kita akan bertemu lagi&#8221;.</p>
<p><strong>Syekh as-Syadzili tiba di Mesir</strong><br />
Tunis, kendatipun bisa dikatakan cikal bakal as-Syadzili menancapkan thariqah Syadziliyah namun itu bukan persinggahan terakhirnya. Dari Tunis, Syekh Abu al-Hasan menuju negara kawasan timur yaitu Iskandariah. Di sana dia bertemu dengan Syekh Abi al-Abbas al-Mursi. Pertemuan dua Syekh tadi memang benar-benar mencerminkan antara seorang mursyid dan murid.<br />
Adapun sebab mengapa Syekh pindah ke Mesir, beliau sendiri mengatakan, &#8220;Aku bermimpi bertemu baginda Nabi, beliau bersabda padaku : &#8220;Hai Ali… pergilah ke Mesir untuk mendidik 40 orang yang benar-benar takut kepadaku”.<br />
Di Iskandariah beliau menikah lalu dikarunia lima anak, tiga laki-laki, dan dua perempuan. Semasa di Mesir beliau sangat membawa banyak berkah. Di sana banyak ulama yang mengambil ilmu dari Syekh agung ini. Di antara mereka adalah hakim tenar Izzuddin bin Abdus-Salam, Ibnu Daqiq al-Iid , Al-hafidz al-Mundziri, Ibnu al-Hajib, Ibnu Sholah, Ibnu Usfur, dan yang lain-lain di Madrasah al-Kamiliyyah yang terletak di jalan Al-muiz li Dinillah.</p>
<p><strong>Karomah Imam Syadzili</strong><br />
Pada suatu ketika, Sultan Abi Zakaria dikejutkan dengan berita bahwa budak perempuan yang paling disenangi dan paling dibanggakan terserang penyakit langsung meninggal. Ketika mereka sedang sibuk memandikan budak itu untuk kemudian dishalati, mereka lupa bara api yang masih menyala di dalam gedung. Tanpa ampun bara api tadi melalap pakaian, perhiasan, harta kekayaan, karpet dan kekayaan lainnya yang tidak bisa terhitung nilainya.<br />
Sembari merenung dan mengevaluasi kesalahan masa lalu, Sultan yang pernah menahan Syekh Syadzili karena hasudan qadhi Abul Qosim tersadar bahwa kejadian-kejadian ini karena sikap dia terhadap Syekh Abu al-Hasan. Dan demi melepaskan &#8216;kutukan&#8217; ini saudara Sultan yang termasuk pengikut Syekh Abu al-Hasan meminta maaf kepada Syekh, atas perlakuan Sultan kepadanya. Cerita yang sama juga dialami Ibnu al-Barra.</p>
<p>Ketika mati ia juga banyak mengalami cobaan baik harta maupun agamanya.<br />
Di antara karomahnya adalah, Abul Hasan berkata, &#8220;Ketika dalam suatu perjalanan aku berkata, &#8220;Wahai Tuhanku, kapankah aku bisa menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada-Mu?, kemudian beliau mendengar suara , &#8220;Yaitu apabila kamu berpendapat tidak ada orang yang diberi nikmat oleh Allah kecuali hanya dirimu. Karena belum tahu maksud ungkapan itu aku bertanya, &#8220;Wahai Tuhanku, bagaimana saya bisa berpendapat seperti itu, padahal Engkau telah memberikan nikmat-Mu kepada para Nabi, ulama&#8217; dan para penguasa.<br />
Suara itu berkata kepadaku, &#8220;Andaikata tidak ada para Nabi, maka kamu tidak akan mendapat petunjuk, andaikata tidak ada para ulama&#8217;, maka kamu tidak akan menjadi orang yang taat dan andaikata tidak ada para penguasa, maka kamu tidak akan memperoleh keamanan. Ketahuilah, semua itu nikmat yang Aku berikan untukmu&#8221;.<br />
Di antara karomah sudi agung ini adalah, ketika sebagian para pakar fiqh menentang Hizib Bahr, Syekh Syadzili berkata, &#8220;Demi Allah, saya mengambil hizib tersebut langsung dari Rasulullah saw harfan bi harfin (setiap huruf)&#8221;.<br />
Di antara karomah Syekh Syadzili adalah, pada suatu ketika dalam satu majlis beliau menerangkan bab zuhud. Beliau waktu itu memakai pakaian yang bagus. Ketika itu ada seorang miskin ikut dalam majlis tersebut dengan memakai pakaian yang jelek. Dalam hati si miskin berkata, &#8220;Bagaimana seorang Syekh menerangkan bab zuhud sedangkan dia memakai pakaian seperti ini?, sebenarnya sayalah orang yang zuhud di dunia&#8221;.<br />
Tiba-tiba Syekh berpaling ke arah si miskin dan berkata, &#8220;Pakaian kamu ini adalah pakaian untuk menarik simpatik orang lain. Dengan pakaianmu itu orang akan memanggilmu dengan panggilan orang miskin dan menaruh iba padamu. Sebaliknya pakaianku ini akan disebut orang lain dengan pakaian orang kaya dan terjaga dari meminta-minta&#8221;.<br />
Sadar akan kekhilafannya, si miskin tadi beranjak berlari menuju Syekh Syadzili seraya berkata, &#8220;Demi Allah, saya mengatakan tadi hanya dalam hatiku saja dan saya bertaubat kepada Allah, ampuni saya Syekh&#8221;. Rupanya hati Syekh terharu dan memberikan pakaian yang bagus kepada si miskin itu dan menunjukkannya ke seorang guru yang bernama Ibnu ad Dahan. Kemudian syekh berkata, &#8220;Semoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadamu melalui hati orang-orang pilihan. Dan semoga hidupmu berkah dan mendapatkan khusnul khatimah&#8221;.</p>
<p><strong>Syekh Syadzili wafat </strong><br />
Syekh Abu al-Abbas al-Mursy, murid kesayangan dan penerus thariqah Syadziliyah mengatakan bahwa gurunya setiap tahun menunaikan ibdah haji, kemudian tinggal di kota suci mulai bulan Rajab sampai masa haji habis. Seusai ibadah haji beliau pergi berziarah ke makam Nabi SAW di Madinah. Pada musim haji yang terakhir yaitu tahun 656H, sepulang dari haji beliau memerintahkan muridnya untuk membawa kapak minyak wangi dan perangkat merawat jenazah lainnnya. Ketika muridnya bertanya untuk apa kesemuanya ini, beliau menjawab, &#8220;Di Jurang Humaistara [di propinsi Bahr al-Ahmar) akan terjadi kejadian yang pasti. maka di sanalah beliau meninggal.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Disajikan Oleh : Muhammad Mukhlisin<strong></strong></p>
<p>Sumber : www.al-hasani.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://madrasahdigital.wordpress.com/category/dunia-sufi/'>dunia Sufi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madrasahdigital.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madrasahdigital.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madrasahdigital.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madrasahdigital.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madrasahdigital.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madrasahdigital.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madrasahdigital.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madrasahdigital.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madrasahdigital.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madrasahdigital.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madrasahdigital.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madrasahdigital.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madrasahdigital.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madrasahdigital.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=165&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/09/as-syadzili-ali-bin-abdillah-bin-abdul-jabbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bddeb5c26467f9aee2bbd3db2180e713?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirojudinmursan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inspirasi MD</title>
		<link>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/04/inspirasi-md/</link>
		<comments>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/04/inspirasi-md/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 10:39:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirojudinmursan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madrasahdigital.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jaman ini milik kita, ini saat yg tepat menunjukan pada dunia bahwa kita bukan cuma penonton, kita juga pemain, pemain yg punya etika, pemain yang punya karakter. Menjadi bagian dari proses panjang pembangunan peradaban umat manusia&#8221;. Filed under: Inspirasi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=149&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Jaman ini milik kita, ini saat yg tepat menunjukan pada dunia bahwa kita bukan cuma penonton, kita juga pemain, pemain yg punya etika, pemain yang punya karakter. Menjadi bagian dari proses panjang pembangunan peradaban umat manusia&#8221;.</p>
<p><a href="http://madrasahdigital.files.wordpress.com/2011/11/sire-21.gif"><img class="alignright size-full wp-image-150" title="sire-2" src="http://madrasahdigital.files.wordpress.com/2011/11/sire-21.gif?w=600" alt=""   /></a></p></blockquote>
<br />Filed under: <a href='http://madrasahdigital.wordpress.com/category/inspirasi/'>Inspirasi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madrasahdigital.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madrasahdigital.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madrasahdigital.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madrasahdigital.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madrasahdigital.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madrasahdigital.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madrasahdigital.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madrasahdigital.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madrasahdigital.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madrasahdigital.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madrasahdigital.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madrasahdigital.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madrasahdigital.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madrasahdigital.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madrasahdigital.wordpress.com&amp;blog=28960772&amp;post=149&amp;subd=madrasahdigital&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madrasahdigital.wordpress.com/2011/11/04/inspirasi-md/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bddeb5c26467f9aee2bbd3db2180e713?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirojudinmursan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madrasahdigital.files.wordpress.com/2011/11/sire-21.gif" medium="image">
			<media:title type="html">sire-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
